Skip to content

Ahli Nasab

AL HABIB AL WALID ALI  bin JA’FAR bin SYECH ASSEGAF.

Al habib lahir di sebuah desa di daerah Sulawesi Selatan (Ujung Pandang) yang bernama Subik Mandar pada tanggal 14 Mei 1934 , Ayah Al habib bernama Al Habib Alwi bin Husin bin Hasan Al bin Hood Al Athas dan ibunya bernama Rugayyah binti Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail. Desa Subik ini adalah suatu daerah nelayan yang berhadapan dengan teluk Mandar , terletak diantara dua wilayah yaitu Majene dan Polewali . Masa kanak-kanak al habib dihabiskan di daerah ini,hingga suatu masa AL Habib diajak oleh pamannya yang bernama Al Habib Ali bin Husin bin Hasan Al bin Hood Al Athas merantau ke tanah Jawa tepatnya di Pekalongan,karena tidak betah dengan suasana baru ini al habib pulang kembali ke Ujung Pandang.

Pada umur 15 tahun al habib kembali merantau ke tanah Jawa tepanya daerah Surabaya, disini al habib bekerja pada Al habib Ja’far Aidid.Setelah tinggal selama 6 tahun di Surabaya al habib menikah pada umur 21 tahun dengan Syarifah Khadijah binti Alwi bin Ali Assofi Asseggaff. Setelah pernikahan ini al habib mendapat kepercayaan yang besar dari Al habib Alwi bin Ali Assofi Asseggaff yang juga merupakan mertua al habib untuk mengelolah pabrik secara penuh tenun kain sarung yang berada di Gapuro Gersik.  Sejak saat diberi kepercayaan Al habib tinggal di Gersik,secara ekonomi al habib cukup mapan dan di waktu itu al habib sering menerima tamu dari berbagai lapisan masyarakat Alawiyin yang ada di Jawa Timur bahkan al habib juga mempunyai relasi dagang yang cukup luas dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegemaran al habib terhadap nasab ini telah dimulai sejak al habib masih mudah/sebelum nikah dimana waktu itu masih banyak Wulaiti (kaum yang lahir di Hadramaut), dalam setiap acara al habib selalu menyempatkan  diri untuk berinteraksi / bergaul dengan segala golongan dengan secara sungguh-sungguh menanyakan nama qabilahnya,asal daeranya dan berbagai masalah yang berkaitan dengan nasab. Terkadang al habib menyempatkan diri berkunjung dengan wulaiti untuk menanyakan permasalahan sekaligus belajar mengenai ilmu nasab adakalah suatu acara al habib sengaja membawa air untuk cucian tangan guna melayani orang-orang tua/wulati pada kesempatan yang sesaat itu alhabib menggunakan untuk berkenalan sekaligus mengenal orang lain.

Al habib belajar kepada banyak orang untuk memahami ilmu nasab ini,jadi al habib membutuhkan waktu puluhan tahun untuk duduk mengurusi permasalahan nasab ini tidak dengan tiba-tiba atau dengan kepentingan tertentu untuk mencari kedudukan di mata manusia,duduknya al habib di ilmu nasab ini jauh dari kepentingan pribadi ataupun golongan. Ada suatu kejadian yang membuat Al habib terpacu untuk belajar ilmu nasab ini, pada suatu ketika sewaktu alhabib baru mau mengenal /belajar silsilah alhabib sempat mendapat sindiran yang cukup membuat alhabib termotifasi untuk membuktikan ketidak benaran ucapan orang-orang. Pada waktu itu ada ucapan yang mengatakan bahwa “Mana mungkin orang dari pedalaman bisa mengerti  nasab“. Ternyata perkataan ini terbantahkan oleh alhabib.

Al habib beserta keluarga hijrah ke Jakarta pada tahun 1981 di Jl. Cililitan Kecil Jakarta Timur dan pada tahun 1989 alhabib memegang kendali dalam menjaga kemurnian/kelestarian ilmu nasab ini hingga sampai akhir hayatnya. Jadi al habib mematahkan perkataan orang yang meragukan kemampuan al habib ternyata orang  yang berasal dari daerahpun mampu memegang kendali ilmu nasab ini setelah belajar puluhan tahun dengan berkeliling kemana-mana. Al habib sempat berkeliling Indonesia bahkan semenanjung Melayu ,alhabib juga punya hubungan yang baik dengan beberapa orang ahli silsilah waktu itu. Diantaranya Al Isa bin Muhammad bin Al Qatmyr Al-Kaff, Al Habib Ibrahim bin Muhammad Al Kaff Singapura dan beberapa ahli silsilah yang lainnya. Al habib juga sempat mempersiapkan beberapa  orang kader untuk mengantisipasi ke masa depan. Diantara kader tersebut adalah Al Habib Zainal Abidin bin Segaf Assegaf yang waktu itu masih berumur 30 tahun.

Sebulan sebelum meninggal alfaqier sempat bertemu al habib dirumahnya, alhabib berpesan “ya Waladi jangan engkau ikuti orang-orang yang berpegang diluar salaf kita, ikuti salaf-salaf kita suatu saat nanti mereka yang keluar dari salaf kita akan hancur sehancurnya” sembari beliau mengantar alfaqier ke luar. Rupanya itulah pertemuan terakhir dan pada tanggal  6 Februari 1995 Al habib meninggal dunia dan dikuburkan di Makam AlHabib Ahmad bin Alwi Al Umar AlHaddad (Habib Kuncung, dibelakang Kali Bata Mall, Jakarta ).

Selamat jalan habib curahan do’a menghantar mu di tempat istirahat yang tenang di dalam tamannya sorga

Semoga ALLAH menempatkanmu pada tempat yang terindah yang belum pernah ditempati manusia lain dimasamu.

Aaamiiin  ya Robbal Alamiin.

————————————

 AL HABIB AL WALID ISA bin MUHAMMAD bin  SYECH  AL-QATMYR AL-KAFF.

Al habib Isa merupakan sosok individu yang sangat sederhana sekali dengan pakaian ketawaddu’an ini sedikit sekali orang yang dapat   mengenal  siapa beliau sebenarnya. Kehidupan ekonomi al habib begitu memprihatinkan dan membuat hati kita sedih, untuk menunjang kehidupan hari-hari, al habib menerima upah menjahit pakaian. Juga terkadang beliau berdagang dengan bermodal kepercayaan dari orang yang memiliki barang-barang dagangan yang polanya serabutan.

Tempat tinggal beliau sangat sederhana sekali dimana bila kita masuk kerumahnya maka langit-langit rumahnya dapat kita sentuh dengan mengangkat tangan kita. Rumah yang Al Habib diami adalah rumah panggung kayu dua tingkat dimana Al Habib tinggal dibagian bawah rumah, dapat kita bayangkan kondisi udara yang cukup lembab.Rumah tersebut hingga saat ini masih dapat kita lihat yakni di Jl. Ali Qatmyr lrg. Kedipan 13 Ilir Palembang. Para Habaib yang ada saat itu hanya datang dan memperhatikan Al Habib saat mereka mencari nasab, mau nikah ataupun masalah warisan lebih dari itu kehidupan Al Habib nyaris terabaikan dan tidak ada perhatian sama sekali mengenai kehidupannya, sementara beliau berupaya menjaga benteng kemurnian nasab yang mulia sementara untuk yang lain kita berani berkorban mati-matian, inikah kondisi gambaran golongan Alawiyin yang sudah sakit sangat kronis sekali. Kalau Alawiyin sudah begini bagaimana masyarakat umum ?????.

Setiap ada acara-acara Al Habib selalu berada di baris bagian belakang  dan sambil bertanya kepada anak-anak muda siapa namanya, nama orang tuanya, nama kakek dan neneknya. Sepulang kerumah AlHabib membuat catatan tersendiri. Pada catatannya Al Habib dengan rapi mencantumkan nama fulan bin fulan nikah dengan fulana binti fulan pada tanggal, bulan dan tahun. Kita akan kagum dan terheran-heran karena kita merasa belum mencatatkan nama kita tetapi beliau mengetahuinya. Inilah gambaran orang-orang yang ikhlas tetapi kehidupannya sangat memprihatinkan.

Bersamaan dengan masa itu juga al faqier sempat bertemu dengan Al Walid Al Habib Muhammad bin Alwi Al bin Hood Al Athas (yang menjadi ketua / Ahli nasab saat itu di Maktab Adda’imi – Rabithah Alawiyah Jakarta), Al Habib Muhammad dengan kejujuran yang ada mengatakan bahwa untuk wilayah Sumatera dan Semenanjung serta sebagian Kalimantan Al Habib Isa jauh lebih mengetahui dibanding beliau. Disini dapat kita lihat kita punya orang-orang tua jauh lebih terbuka fikirannya dibandingkan dengan kita, alfaqier sempat ceritakan mengenai kehidupan al habib Isa kepada Al Walid Muhammad bin Alwi AlAthas. Mendenger cerita alfaqier Al habib Muhammad sangat kaget dan tersentak kemudian beliau mencoba menghubungi  salah seorang sahabatnya ditanah Melayu dan secara bersama-sama Al habib Muhammad dengan seorang habib dari tanah Melayu berkunjung ke kediaman Al Walid Alhabib Isa dan sedikit memberikan tanda cinta kasih sesama Alawiyin, satu tindakan yang sangat indah sekali yang belum pernah kita lakukan untuk menghargai seseorang ahli nasab. 

Setelah kunjungan tersebut al Faqier sempat kembali bertemu dengan Al walid Muhammad bin Alwi Al Athas dan beliau bercerita panjang lebar. Yaa….Waladi (wahai  anakku) begitukah orang-orang ditempat asal ente yang tidak menghargai orang yang memiliki ilmu yang begitu berjasa dan mempunyai kedudukan khusus disisi ALLAH dan RASULNYA ?????.

Ada  satu jasa beliau lagi yang sempat luput dari pengamatam kita yaitu dalam dasa warsa tahun 1980 an Al habib Isa dengan gigih mengurus Maqam Keramat Kembang Koci Di Pelabuhan Boom Baru Palembang (alfaqier punya surat edaran yang beliau buat untuk mengumpulkan dana guna merawat maqam tersebut). Dimasa itu beliau seorang diri begitu gigih mempertahankan keberadaan maqam tersebut bahkan beliau pernah tidur di maqam tersebut kira-kira tahun 1994 awal. Pada waktu itu maqam tersebut akan di buldozzer /diratakan dengan tanah guna perluasan pelabuhan Boom Baru sehingga beliau beberapa malam menjaga kuburan tersebut jangan sampai dirusak. al faqier bertemu al habib Isa terakhir tahun 1994 dimana waktu itu beliau dalam keadaan sakit parah, kedua kaki beliau bengkak juga muka beliau nampaknya al habib terkenah gagal ginjal. Al faqier tidak melihat saat itu adanya upaya untuk membantu al habib untuk berobat ke dokter, akhirnya setelah  lebih kurang satu minggu alfaqier bertemu beliau, alfaqier mendapat khabar bahwa beliau telah wafat di Palembang. Kesedihan yang sangat menyelimuti kita karena kehilangan orang besar sementara kita belum bisa menghargai jasa-jasanya.

Alhabib banyak meninggalkan catatan-catatan dalam bentuk pohon nasab dari berbagai macam qabilah. Al habib menulisnya dari almanak/tanggalan bekas karena ketidak mampuan membeli kertas dan sangat sayang sekali semua dokumentasi / hasil karya alhabib Isa banyak yang hilang, Alhabib sempat berpesan bila beliau telah tiada tolong buku yang 15 jilid di kembalikan ke Maktab Adda’imi Pusat Jakarta.  Sewaktu Al Habib Zainal Abidin Assegaf menjabat sebagai ketua Maktab Adda’imi – Rabithah AlAlawiyah buku tersebut belum berada di pusat hingga menjelang tahun 1999. Alhamdulillah sebagian karya tulisan pribadi al Walid Al Habib Isa ini ada pada Alfaqier / Maktab Naqobatul Asyrof Al Kubro Jakarta. Al habib dikuburkan di qubah Al-kaff (di Palembang disebut juga qubah kecik/kecil) bersebelahan dengan qubah besar di Jalan Dr.M.Isa  Kenten 8 Ilir, Palembang.

Demikianlah riwayat yang sangat singkat ini dapat al faqier tuliskan disini dan ini jauh dari sempurna tetapi hanya inilah yang untuk sementara yang bisa alfaqier tunjukkan sebagai rasa terima kasih kepada :

“GURUKU SEKALIGUS KAKEKKU TERCINTA AL WALID AL HABIB ISA BIN MUHAMMAD BIN SYECH AL-QATMYR AL-KAFF”

SEMOGA ALLAH BERKENAN MENERIMAH AMAL IBADAHNYA DAN DILAPANGKAN KUBURANNYA SEPERTI DI TAMAN SYURGA .

Amiin Ya Robbal Alamiin

 ===========0o0===========

AL HABIB AL WALID MUHAMMAD bin ALWI bin HUSIN AL-bin HOOD AL-ATHAS.

Al-Habib Al-Walid Ahmad bin Abdullah bin Muchsin Assofie Assegaf lahir pada tahun 1299 H di kota Syihr ibukota Hadramaut ketika itu,Al-Habib lahir saat Ayahnya sedang berdakwa dikota tersebut. Ketika berumur empat tahun Al-Habib beserta ayahnya dan keluarga pergi kekota Sewun yang dikenal sebagai kota ilmu yang banyak menghasilkan ulama,orang-orang mulia dan orang-orang shaleh. Sewun merupakan kota asal nenek moyang Al-Habib yang hidupnya senantiasa berada dibawah naungan ilmu dan asuhan para ulama.Al-Habib mempelajari berbagai macam ilmu diantaranya ilmu ushuludin,fiqih,ilmu bahasa,sastra dan tasawuf.

 

Setelah itu Al-Habib pergi ke Tarim,kota pusatnya para ulama,tempat tinggal orang-orang saleh dimana Al-Habib berkecimpung di majlis-majli ilmu dan berhubungan dengan ulama besar untuk menimbah ilmu dari mereka. Selalu dekat bersama-sama dan menghirup berbagai macam ilmu,laksana minuman curahan air bah dengan kepuasaan hati, sehingga para ulama memuji kepandaian dan keunggulaanya. Di antara ulama tersebut adalah Al Allamah AL Imam Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Shahabuddin, Mufti Hadramaut dan seorang ahli nasab silsilah Alawiyin Shohibul Fatwa, serta penyusun kitab yang utama dalam ilmu nasab yaitu Syamsuzhahirah.

 

Keluarga Al-Habib dikenal dengan ketinggian ilmunya,ketakwaan dan kesalehannya.Mereka dikenal sebagai cikal bakal para ulama Sewun yang menimbah ilmu secara turun temurun dari kakek sampai ke anak cucu. Diantara mereka adalah ulama,cendikiawan mubalig dan perintis pergerakan. Ayah Al-Habib adalah salah seorang ulama yang menghabiskan masa hidupnya untuk berdakwa ,menyebarkan ilmu pengetahuan,ilmunya luas serta terkenal akan kehebatannya. Sedangkan kakek Al-Habib yakni Al Allamah Al-Habib Muchsin bin Alwi Assegaf lebih tinggi lagi keunggulannya dari yang telah kita sebutkan diatas’mengungguli banyak suku dan gabilah dan perjalanan hidupnya tercatat didalam sejarah sebagai tonggak keadilan dan kebenaran.

 

Al-Habib Ahmad pada tahun 1303 H datang ke Indonesia datang mengunjungi saudaranya yang tertua yaitu Al-Habib Muhammad bin  Abdullah bin Muchsin Assegaf di pulau Bali. Al-Habib tinggal di Bali untuk beberapa saat lamanya kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Di Surabaya Al-Habib beberapa perintis pergerakan Islam dan para cendikiawan. Mereka membahas tentang kebangkitan pergerakan keturunan Arab dan kaum muslim di masa mendatang . Juga mengadakan perbaikan-perbaiakn untuk kemajuan kaum Musli sehingga tergeraklah cita-cita dan keinginan sekelompok jamaah yang cinta yang cinta kepada kebaikan di Surabaya, Gresik dan Jakarta. Al-Habib adalah orang yang pertama yang menjadi pimpinan di Madrasah Al Khairiyah. Mulai saat itu Al-Habib memimpin dengan bijaksana dan dikenal dengan cerdik pandai yang ahli dalam bidang pendidikan.

Di Surabaya ini Al-Habib menikah  dan memiliki beberapa orang putra,setelah itu pindah ke Solo menjadi pengurus disebuah sekolah dan menjadi peimpin yang terkemuka hingga Al-Habib menjadi buah bibir dimanapun berada. Semua orang mengakui keunggulannya namun Al-Habib tiada henti-hentinya belajar untuk menambah ilmupengetahuan. Pada malam hari Al-Habib belajar disebuah sekolah memperdalam ilmu pendidikan, psikology, dan ilmu lain yang menunjang dalam bidang pendidikan. Dalam waktu singkat Al-Habib mampu menguasai ilmu-ilmu itu bahkan guru Al-Habib di bidang psikologi mengakui keunggulannya sbagai murid yang cerdas dan meramalkannya akan menjadi maha guru.

Sewaktu beliau menyampaikan pelajaran, sahabat-sahabat beliau yang orang pribumi diantaranya para seniman sangat kagum dan mengakuinya kemahirannya dalam di bidang pendidikan disiplin dan manajemen sekolah. Para murid dan orang tua murid juga kagum kepada Al-Habib.

Al-Habib juga berdagang antara Jakarta dan Solo disamping itu Al-Habib tetap tidak melalaikan cita-citanya dan keinginannya dalam bidang yang diminatinya,yaitu mengadakan perbaikan dalam bidang pendidikan dan  pengajaran. Dari Solo Al-Habib pindah ke Jakarta dan menjadi pemimpin di Sekolah Jami’at  Khair, Al-Habib mengadakan pergerakan khusus dengan bantuan para cendikiawan dan membuka kelas baru untuk para pelajar dan menyusun tata tertib untuk para pelajar putra-putri,juga mengarang buku-buku pelajaran  dan lagu-lagu sekolah yang digubahnya sendiri.Buku-buku tersebut terdiri dari buku agama,sastra,akhlak dan buku umum tentang keagamaan. Setelah itu datanglah utusan dari seluruh penjuru pulau Jawa,Sumatra, dan lain-lainnya. Disamping itu datang pula para pelajar dari kepulauan Indonesia dan Malaysia meminta supaya dikirimkan guru-guru. Datang pula surat dari Mukalla dan Syihr meminta supaya Al-Habib memimpin pengajaran disana.

 

Pada waktu Al-Habib berada di Jakarta bertepatan dengan adanya pergerakan Ar-Rabitha Al-Alawiyah yang mana Al-Habib adalah salah satu ulama penggerak baik pikiran maupun tulisan. Al-Habib mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam memberikan petunjuk dan pengarahan serta menyeruh kepada persatuan dan perdamaian. Pendekatan semua itu dapat dilihat dalam syair ,qasidhahdan nyanyian yang menyerukan kepada persatuan. Oleh karena itu tidak patut bagi kita untuk tidak mengenal Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Muchsin Assegaf ini dengan melihat peninggalannya berupa karya sastra yang sangat tinggi mutunya dan Al-Habib merupakan salah satu Pilar Utama dalam pergerakan Alawiyin di Indonesia ini. Al-Habib juga menjadi pengasuh di majalah Ar-Rabithah Al-Alawiyah dimana misi dari majalah  ini adalah menyerukan dan mengarahkan kepada pembahasan ilmiah, sejarah, sastra dan kemasyarakatan. Majalah ini punya nilai sejarah yang sangat tinggi yang diterbitkan di kepulauan ini. Al-Habib sangat benci dengan penjajahan dan setiap langkahnya selalu berjuang, ketika terjadi Konggres Muallimin di Pekalongan Al-Habib adalah salah satu orang yang menentang dan memutuskan untuk tidak mengikuti sistim yang dibentuk oleh pemerintah Belanda melainkan mengambil sistim pengajaran yang dipakai di negara Islam seperti Mesir dan lain-lain, dengan menjadikan bahasa Arab sebagai pengantar dan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran tambahan.

 

Al-Habib yang berjiwa besar ini banyak memberikan sumbangan berupa pandangan dan pengarahan sehingga buku-buku cerita yang dikarangnya pun tak epas dari unsur-unsur falsafah hidup. Ini dapat kita lihat dalam buku cerpenya yang berjudul “Fatat Qarut (Gadis Garut)”, sekarang sudah dicetak menjadi buku dalam edisi bahasa Indonesia. Karya sastra ini sangat indah dan patut untuk di baca dan mengandung budaya bangsa dan syair-syair.

 

Setelah Al-Habib kembali ke Solo di saat tentara Jepang datang menyerbu pemerintah Hindia Belanda dan terjadi pertempuran sengit. Tak lama Al-Habib pun pindah ke Jakarta kembali dan mengajar di Kalibata dan kemudian terpikir oleh Al-Habib untuk kembali ke Hadramaut. Banyak karya-karya Al-Habib yang disebarluaskan untuk sebagai buku pelajaran di Madrasah-madrasah. Diantaranya adalah cerita-cerita yang berisi masalah pendidikan seperti Fatat Garut (gadis Garut),Thohayat Tasahul,dan Ash-Shabara wats Tsabat (berisi tentang cara hidup yang baik di dalam masyarakat untuk mencapai kemulian dunia dan akhirat),buku-buku pendidikan dan ilmu jiwa, Sejarah Banten,Sejarah masuknya Islam di Indonesia. Keahlian Al-Habib didalam syair mendapat pengakuan dari banyak ahli syair di negara Arab. Selain itu Al-Habib juga punya keahlian di bidang kerajinan tangan dan elektronika dan Al-Habib pernah membuat sebuah alat musik yang dinamakan Alarangan.

Dan diantara karya Al-Habib yang paling monumental adalah kitab mengenai “Ilmu Nasab” yaitu KHIDMATUL ASYIRAH, kitab ini Al-Habib buat sebagai ringkasan dari kitab Syamsud  Azh-Zhahirah untuk mempermudah bagi para penelaah / orang yang cinta dengan ilmu nasab. Dalam kitab ini Al-Habib menguraikan secara sistimatis mengenai nasab dan memberikan tambahan agar setiap orang memelihara kesucian nasabnya dengan ahlak yang mulia sebab ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang. Karena tidaklah mudah untuk melaksanakannya, apalagi menjaga nasab sebagai ikatan penyambung keturunan serta asal-usul kembalinya keturunan seseorang kepada leluhurnya. Riwayat seseorang diteliti dengan seksama supaya terjaga kesucian nasabnya dengan tertibnya susunan dari awal sampai akhir dengan jelas dan benar. Dengan segala jerih payah Al-Habib berusaha menyempurnakan isi buku ini walaupun Al-Habib mempunyai kesibukan yang luar biasa,apalagi penulisan buku ini harus didukung dengan suasana yang tenang . Segala rintangan yang duhadapinya membuat Al-Habib tegar pantang mundur demi melaksanakan niat dan keinginan untuk menyusun sejarah nasab Alawiyin yang merupakan pekerjaan yang sangat mulia . Dan tiada berharga kitab ini kecuali bagi orang yang mempunyai sifat mulia.

 

Di dalam kitab ini Al-Habib menambahkab catatan beberapa orang yang terkemuka serta para ulama yang hidup sekitar tahun 1307-1365 H,saat menulis kitab ini sekitar tahun1363 Al-Habib menghitung terdapat lebih dari 300 qabilah dan kitab ini pertama kali diterbitkan di Solo Rabiul Awal 1365 H pada kesempatan ini alfaqier coba tampilkan hanya 149 qabilah yang ada tanpa menyebut keturunan dari Sayyidina Hasan RA.

Sila lihat di : Daftar Gabilah Nasab Al Alawiyin

 

Akhir hayat dari Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Muchsin Assofie Assegaf penuh dengan kemuliaan. Al-Habibpun berniat pulang kenegeri asal setelah melihat generasi penerusnya telah bangkit semangatnya ,yang telah Al-Habib saksikan dalam kehidupannya dan atas didikan serta jerih payah yang telah Al-Habib berikan banyak diantara mereka yang mengembangkan ilmunya dalam bidang sastra dan seni. Murid-murid dan teman-teman  Al-Habib mengakui akan kemuliaan dan keagungan yang tampak dalam bait-bait syair perpisahan yang dikarangnya. Mereka melepas kepergian Al-Habib dengan kesedihan yang dalam. Maka berangkatlah Al-Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf dari Jakarta pada hari Selasa 22 Jumadil Awwal 1369 H. ALLAH telah menentukan umurnya ketika Al-Habib sampai ditengah laut,maka wafatlah seorang Allamah,Pujangga,Ahli Nasab,Organisatoris Ulung, Pendidik Yang berhati Mulia dan masih banyak lagi keahlian yang Al-Habib miliki.Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roojiu’n . Dan yang sangat disayangkan adalah banyak karya Al-Habib yang belum sempat dibukukan yang ikut terkubur ditengah laut termasuk semua perbekalan yang Al-Habib bawa. Kita kehilangan lagi seorang yang besar tampa ada pengganti yang sekelas dan setara dengan Al-Habib.

Bila kita tidak berbuat sekarang maka ilmu nasab ini akan hilang seperti meninggalnya orang-orang besar sebagai pendahulu kita,sekarang sudah saatnya kita secara bersama-sama mempersiapkan kader-kader yang baru untuk menjaga kemurnian dan kesucian nasab kita ini.

Akhir kalam alfaqier mohon maaf bila ada kesalahan dalam penguraian sejarah ini.

===========0o0===========

 

 

 

 

AL HABIB AL WALID AHMAD bin ABDULLAH bin  MUCHSIN  ASSEGAF.

 

dalam pengerjaan

AL HABIB AL WALID MUHAMMAD DHI’YA bin ALI bin AHMAD SHAHABUDDIN.  

dalam pengerjaan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: